Puasa Ramadhan : Hukum, Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan

Diposting pada

Puasa Ramadhan – Sebagai umat islam tentunya kita sudah tidak asing dengan ibadah puasa. Ibadah puasa ini merupakan ibadah yang sangat istimewa, ini dikarenakan ibadah puasa dapat dilaksanakan bersamaan dengan ibadah lainnya.

Berbeda dengan ibadah lain seperti sholat, itu tidak bisa dilakukan dengan kegiatan ibadah lain. Misal, kita melaksanakan sholat sembari membaca al-qur’an, kedua ibadah ini tidak lah dapat dilakukan secara bersamaan.

Akan tetapi, jika ibadah puasa sembari membaca Al-qur’an itu bisa dilaksanakan secara bersamaan, bahkan akan mendapatkan pahala atau ganjaran yang besar.

Ibadah puasa biasanya diperkenalkan dan diajarkan sejak usia dini. Ini dikarenakan agar kita terbiasa dalam melakukan ibadah tersebut. Bahkan Allah swt menyiapkan satu bulan khusus yang diperuntukkan untuk mengerjakan ibadah puasa. Bulan tersebut adalah bulan Ramadhan. Lalu, bagaimanakah cara melaksanakan dan apakah hukum melaksanakan ibadah puasa pada bulan ramadhan,itu? Yuk, simak penjelasan Ciudad1.com dibawah ini !

Hukum Puasa Ramadhan

Hukum Puasa Ramadhan

Puasa atau dalam bahasa arab disebut shiyam secara umum berarti menahan diri dari makan, menum, bersetubuh serta menjaga diri dari ucapan dan perbuatan yang tidak terpuji mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Hukum melaksanakan puasa dibulan ramadahan adalah fardlu ‘ain, artinya adalah wajib. Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

َيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.s Al-Baqarah :183)

Dari ayat diatas jelas dikatakan bahwa melaksanakan puasa itu wajib, bahkan juga diwajibkan atas orang-orang sebelum kita, artinya sejak zaman para nabi pun telah diwajibkan untuk melaksanakan puasa.

Allah Ta’ala juga berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S Al-Baqarah :185)

Sudah sangat jelas bukan, dari dua ayat diatas dijelaskan hukum melaksanakan ibadah puasa pada bulan ramadhan adalah wajib. Artinya adalah ibadah yang harus dilakukan dan apabila ditinggalkan akan mendapatkan dosa. 

Terdapat pula beberapa hadits yang menjelaskan tentang hukum puasa ramadhan, diantaranya adalah sabda Rasulullah saw. kepada  orang Arab yang bertanya kepada Rasul :

“Beritahulah aku akan sesuatu yang telah difardlukan oleh Allah kepadaku berupa puasa ? Lantas Nabi saw. bersabda : “Puasa bulan ramadhan”. (HR. Bukhari Muslim)

Dari hadits diatas terdapat orang Arab yang bertanya kepada Rasul mengenai puasa apa yang difardlukan atau diwajibkan oleh Allah? Kemudian, Rasulullah saw. menjawab dengan singkat yaitu “Puasa Ramdhan”.

Dari ayat-ayat dan hadits diatas sudah sangat kuat kebenarannya dan sudah tidak dapat diubah lagi, bahwa hukum berpuasa di bulan ramadhan adalaha Wajib.

 

Syarat Wajib Puasa Ramadhan

Syarat Wajib Puasa Ramadhan

Syarat wajib puasa, artinya apabila seorang mu’min telah memenuhi syarat yang ditentukan maka mu’min tersebut diwajibkan untuk melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan.

Syarat-syarat wajib puasa di bulan ramadhan itu ada empat perkara :

1. Islam

Artinya, seseorang akan diwajibkan untuk berpuasa apabila ia beragama Islam.

2. Dewasa/Baligh

Syarat yang kedua adalah telah dewasa atau baligh. Ukuran baligh seorang laki-laki adalah ketika ia telah mengalami mimpi basah (keluar air mani) dan ukuran baligh seorang wanita adalah ketika ia telah mengalami menstruasi. Apabila seorang laki-laki atau wanita telah mengalami hal tersebut makan diwajibkan baginya untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Sebagai mana disabdakan oleh Nabi saw. yang artinya :

“Tiga orang telepas daripada hukum: orang yang sedang tidur sehingga ia bangun, orang gila sampai ia sembuh, kanak-kanak sampai baligh.”(HR.Abu Dawud dan Nasa’i) 

3. Berakal/Tidak gila

Orang yang tidak berakal atau gila dan kanak-kanak yang belum mumayyiz tidak diwajibkan untuk berpuasa dikarenakan mereka tidak memiliki niat. Anak-anak yang sudah mumayyiz apabila usianya mencapai 7 tahun maka, hendaklah disuruh berpuasa jika telah mampu. Apabila usianya telah mencapai 10 tahun hendaklah dipukul apabila dia meninggalkan.

4. Mampu Mengerjakan Puasa

Orang yang diwajibkan untuk berpuasa adalah orang yang mampu, artinya adalah tidak sedang dalam keadaan sakit, lanjut usia atau udzur lainnya yang mengakibatkan ia tidak mampu melaksanakan puasa.

Rukun Puasa Ramadhan

Rukun puasa ramadhan adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, dan tidak boleh ditinggalkan. Berikut ini adalah rukun-rukun yang harus dipenuhi agar puasa kita dapat diterima Allah swt :

1. Islam

Sudah pasti, syarat yang pertama adalah beragama islam, apabila tidak beragama islam atau kafir maka puasanya tidak sah.

2. Niat

Puasa diharuskan diawali dengan niat, apabila tidak niat maka puasanya tidak sah. Niat tersebut dilakukan disetiap malam harinya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. :

“Barang siapa tiada berniat puasa pada sebelumnya fajar, tak ada lah puasa baginya.”(HR.Abu Dawud,Daruquthniy,Turmudzi,dan Nasa’i)

3. Suci dari haid dan nifas

Syarat yang ketiga ini ditujukan khusus untuk para wanita, apabila sedang dalam masa haid atau nifas maka tidak diperbolehkan untuk berpuasa adapun apabila ia berpuasa maka puasanya tidaklah sah.

Meski tidak diperbolehkan untuk berpuasa, tetap diharuskan untuk diqadha atau mengganti puasa tersebut dihari selain bulan ramadhan.

4. Menahan diri dari hal yang membatalkan puasa

Puasa tidak akan sah apabila kita tidak mampu menahan diri terhadap hal yang membatalkan puasa. Misalnya perkara yang membatalkan puasa adalah  makan dan minum, muntah dengan sengaja, bersetubuh dengan sengaja, mengeluarkan air mani dengan sengaja, haid , nifas dan gila atau hikang akal.

Dan khusus untuk orang yang dengan sengaja berhubungan seksual dengan pasangan diharuskan membayar kifarat berupa puasa 2 bulan atau 60 hari secara berturut-turut dan memberi makan 60 orang fakir.

 

Hal yang membatalkan puasa

Hal-Hal yang membatalkan puasa

1. Memasukkan sesuatu dengan sengaja ke dalam lubang tubuh

Lubang tubuh yang dimaksud antara lain ialah, Mulut, lubang hidung, mata, telinga, kemaluan dan dubur.

2. Makan dan minum dengan sengaja

Salah satu syarat puasa adalah menahan diri dari makan dan minum, sudah tentu apabila kita sengaja makan dan minum diwaktu sedang berpuasa itu akan membatalkan puasa kita.

3. Muntah dengan sengaja

Muntah dengan sengaja dapat mengakibatkan batalnya puasa. Karena terdapat hadits yang menjelaskan :

“Dari Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : “barang siapa yang muntah, sedang ia berpuasa, maka ia tidak qadla (tidak batal) dan barangsiapa yang menyengaja muntah, maka hendaklah ia mengdla (mengganti puasa)”.(HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

4. Berhubungan seksual dengan pasangan

Bersetubuh atau menggauli istri disaat sedang berpuasa dapat membatalkan puasa. Berhubungan intim bagi pasangan suami istri dapat mendatangkan pahala dan kebaikan, akan tetapi apabila dikerjakan diwaktu sedang berpuasa maka batal-lah puasa tersebut.

5. Haid dan nifas

Hal ini khususnya dialami oleh kaum hawa. Apabaila seorang wanita sedang berpuasa dan di tengah ia mengalami menstruasi maka batal-lah puasanya itu, dan wajib menggantinya dihari selain bulan ramadhan sesuai dengan hari yang ditinggalkan.

6. Gila atau hilang akal

Apabila seseorang yang sedang berpuasa kemudian ia hilang akal atau gila maka batal dan hilang kewajibannya untuk berpuasa.

7. Murtad atau keluar dari islam

Salah satu syarat sah puasa adalah beragama islam. Jadi, jika seorang muslim yang tengah berpuasa kemudian ia murtad atau keluar dari islam maka batal dan hilang kewajibannya untuk berpuasa.

Sunnah-Sunnah Puasa Ramadhan

Hal-hal yang disunnahkan dalam berpuasa itu ada tiga perkara :

1. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan bagi kita sebelum melaksanakan ibadah puasa untuk sahur terlebih dahulu. Dan disunnahkan oleh nabi untuk mengkahirkan waktu sahur. Tentang mengakhirkan waktu sahur tersebut, Nabi saw. bersabda :

“Umatku selalu dalam kebaikan selagi mensegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”(HR. Ahmad)

Mengakhirkan sahur itu dapat terjadi pada waktu dimana seseorang selesai makan dan minum sebelum (menjelang) terbitnya fajar kurang sedikit. Didalam hadits di terangkan :

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاةِ ، قَالَ : قُلْتُ : كَمْ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ ؟ قَالَ : قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةٍ

Artinya :

“Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melaksanakan shalat. Anas berkata, Aku bertanya kepada Zaid: “Berapa jarak antara adzan dan sahur ?”. Dia menjawab : ‘seperti lama membaca 50 ayat’” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Menyegarakan berbuka

Sunnah segera berbuka ketika telah tiba waktunya disebutkan dalam hadits nabi saw. :

عن سهل بن سعد – رضي عنهما – أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ((لا يزال الناس بخير ما عجل الفطر)) متفق عليه

Artinya :

“Dari Sahal bin Sa’ad ra. bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda: “Orang-orang senantiasa dalam kebaikan selagi mensegerakan berbuka puasa.”(Muttafaqun Alaihi)

Yang utama adalah bila berbuka dengan beberapa kurma ditambah sedikit air, kemudian shalat magrib, lalu memakan makanan apabila dikehendaki. Disebutkan dalam sebuah hadits :

“Bahwasannya nabi Muhammad saw. apabila berpuasa maka beliau tidak mau shalat sampai beliau diberi kurma yang belum masak atau air, lalu beliau makan atau minum, dan apabila berada dimusim dingin, maka beliau tidak mau mengerjakan shalat sehingga beliau diberi kurma atau air.”(HR. Ibnu Hibban)

3. Meninggalkan perkataan yang keji

Secara hukum ketika orang berpuasa kemudian tidak meninggalkan perkataan yang keji tidak lah membatalkan puasanya. Akan tetapi, akan membatalkan pahala puasanya sehingga sia-sialah puasanya di hari itu.

Rasulullah saw bersabda :

“Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Rasulullah saw telah bersabda: “Orang yang tidak meninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah tidak butuh untuk memberikan pahala karena meninggalakan makan dan minumnya.”(HR.Bukhari)

Baca juga :

Demikianlah pembahasan mengenai permasalahan puasa ramadhan yang berkaitan tentang hukum, syarat wajib dan sahnya puasa, perkara yang membatalkan serta sunnah-sunnah puasa ramadhan. Semoga dapat bermanfaat dan mudah difahami sehingga dapat kita amalkan. Aamiin ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *