Panduan Qurban Hari Raya Idul Adha 2019/1440H Lengkap

Diposting pada

Panduan Qurban- Kesempatan kali ini Ciudad1.com akan menyajikan panduan qurban di hari raya idul adha secara lengkap. Seperti yang kita ketahui qurban merupakan ibadah tambahan yang hanya dilakukan dihari raya idul adha.

Ibadah Qurban merupakan suatu kegiatan pendekatan diri kepada Allah swt baik dalam bentuk penyembelihan atau lainnya.

Dikarenakan sebentar lagi kita akan memasuki hari raya idul adha ada baiknya kita menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk keperluan ibadah di hari idul adha sejak dini.

Ibadah qurban yang dilakukan dihari idul adha ini memiliki beberapa syarat dan ketentuan untuk binatang yang akan diqurbankan. Jadi sangatlah penting bagi teman-teman yang ingin berqurban di tahun ini untuk mengetahui ketentuan dan syarat qurban tersebut.

Adapun poin-poin yang akan kami bahas kali ini adalah :

  1. Sejarah singkat qurban
  2. Hukum melaksanakan qurban
  3. Ketentuan binatang qurban dan aturan penyembelihannya

Baiklah untuk mempersingkat waktu, marilah kita pelajari bersama-sama!

Baca Juga : Panduan Zakat Fitrah, Syarat, Tata Cara dan Niat

Sejarah Singkat Ibadah Qurban

Kisah atau sejarah qurban ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim as. yang menyembelih puteranya Ismail as. yang kemudian disyiarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam kepada seluruh umat muslim untuk melaksanakan qurban disetiap hari raya idul adha. Berikut adalah cerita singkatnya!

Telah dikisahkan bahwasannya nabi Ibrahim as. belum memiliki anak hingga masa tuanya, kemudian beliau memohon kepada Allah swt, 

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS Ash-Shafaat [37] : 100)

Kemudia Allah swt yang mendengarkan doanya mengabulkan doanya dan memberinya anak yang dilahirkan oleh istri keduanya Siti Hajar, anak itu ialah Nabi Ismail.

Suatu ketika Nabi Ibrahim diberi petunjuk oleh Allah, agar meninggalkan istrinya Siti Hajar dengan seorang putranya yang dari lahir dan ia disuruh menemui istrinya yang pertamanya yakni Siti Sarah yang berada di Yerussalem kota tempat Masjidil Agsho.

Beliau meninggalkan beberapa potong roti dan sebuah guci besiris air untuk Siti Hajar dan Ismail.

hingga suatu ketika Siti Hajar kehabisan makanan dan air, ia melihat disebelah timur ada air yang ternyata adalah fatamorgana yaitu di Bukit Sofa. Di situ Ismail ditinggalkan dan Siti Hajar naik Kebukit Marwah serta kembali ke Sofa sampai berulang tujuh kali, tapi tidak juga mendapatkan air sampai ia kembali ke Bukit Marwah yang terakhir.

Ia merasa khawatir terhadap anaknya,kemudian dilihatnya kaki Ismail bergerak-gerak diatas tanah dan tiba-tiba keluar air dari dalam tanah. Siti Hajar berlari kebawah sambil berteriak kegirangan :”zami-zami?”itulah kemudian menjadi sumur Zam-Zam.

Sehingga ditempat itulah Allah swt menetapkannya sebagai tempat ibadah haji. Allah swt berfirman dalam Quran Surat Al-Hajj : 27 

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai onta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”

Nabi Ismail ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim yang berada di Yerusalem sampai Nabi Ismail menjelang remaja. Sedang Nabi Ibrahih yang berada di yerusalem bersama dengan istri pertamanya Siti Sarah hamil dan melahirkan seorang putera yang kenudian diberinama Ishak.

Kemudian Nabi Ibrahim diperintahkan lagi oleh Allah swt untuk kembali ke Mekkah untuk menengok istri dan anaknya yang pertama yaitu Nabi Ismail, yang telah  beranjak remaja. Dalam suatu riwayat kira-kira berusia 6-7 tahun.

Sejak dilahirkan sampai besar itu Nabi Ismail menjadi kesayangan. Tiba-tiba Allah memberi ujian kepadanya, Dalam impiannya ia mendapat perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Nabi Ismail dan sampai di Mina beliau menginap, beliau mimpi yang sama. Demikian juga ketika di Arafah malamnya di Mina, masih bermimpi yang sama juga. Betapa ujian Berat kepada Nabi Ibrahim as. Supaya menyembelih putra kesayangannya. 

yang kemudian Allah swt berfirman dalam surat Ash-Shaffaat ayat 102 :

Maka tatkala sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pemdapatmu ” Ia menjawab: “hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Kemudian Ibrahim mengajak putranya Nabi Ismail, kira-kira antara ratusan meter dari tempat tinggalnya (Minah), baru lebih kurang 70-80 meter berjalan, setan menggoda istrinya Siti Hajar:

“Ya Hajar! Apakah benar suamimu yang membawa parang akan menyembelih anakmu Ismail yang sedang tumbuh dan menggemaskan itu?” Akhirnya Siti Hajar, sambil berteriak-teriak:

“Ya Ibrahim, ya Ibrahim mau dikemanakan anakku?” Tapi Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT, ditempat itulah dimana pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah bagi jemaah haji disuruh melempar batu dengan membaca :

Bismillahi Allahu Akbar. Hal tersebut mengandung arti bahwa kita melempar setan atau sifat-sifat setan yang ada di dalam diri kita.

Akhirnya tibalah mereka di Jabal Qurban kira-kira 200 meter dari tempat tinggal Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebagaimana di firmankan oleh Allah didalam surat ASH-Shaffaat ayat 103-107:

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik”. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar “.

Dari kisah tersebutlah kemudian ditetapkan pada tanggal 10 dzulhijjah sebagai puncaknya haji dan pelaksanaan ibadah qurban.

Salah satu bentuk lain dari qurban selain qurban binatang dibulan idul adha adalah qurban harta atau yang lebih dikenal dengan zakat fitrah.

Hukum Melaksanakan Qurban

Untuk penyembelihan qurban yang dilaksanakan hari idul adha ini disyariatkan dalam beberapa dalil, diantaranya disampaikan langsung dalam firman Allah swt surat Al-Kautsar:2 yang berbunyi :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

artinya : Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

Dijelaskan pula dalam hadits dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim).

Dari keterangan hadits diatas diterangkan oleh mayoritas ulama bahwasannya hukum dari ibadah qurban ini adalah sunnah. Sebab diterangkan oleh imam syafi’i Seandainya menyembelih udhiyah itu wajib, beliau akan bersabda, “Janganlah memotong rambut badannya hingga ia berqurban (tanpa didahului dengan kata-kata: Jika kalian ingin …, pen)”.” (Disebutkan oleh Al Baihaqi dalam Al Kubro).

Terdapat pula riwayat lain yang menerangkan bahwa hukum menyembelih kurban ini tidak wajib, yaitu :

Dari Abu Suraihah, ia berkata, “Aku pernah melihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak berqurban.” (HR. Abdur Rozaq). Ibnu Juraij berkata bahwa beliau berkata kepada ‘Atho’, “Apakah menyembelih qurban itu wajib bagi manusia?” Ia menjawab, “Tidak. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban.” (HR. Abdur Rozaq)

Ketentuan Hewan Qurban Dan Aturan Penyembelihannya

Kita telah mempelajari sejarah dan hukum melaksanakan qurban pada poin pertama dan kedua. Selanjutnya kita masuk ke poin ke tiga yaitu ketentuan binatang qurban dan aturan penyembelihan bintang qurban.

Dalam ketentuan hewan qurban yang perlu kita ketahui pertama ialah binatang apa saja yang dapat diqurbankan. Binatang-binatang yang dapat dikurban kan diantaranya adalah (1) Unta, (2) Sapi atau kerbau,dan (3) Kambing.

Perkara yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah usia binatang qurban. Binatang-binatang yang akan dikurbankan harus telah memasuki batasan usia yang telah ditentukan. Batasan-batasan usia tersebut diantaranya adalah :

  1. Unta = Usia minimal 5 tahun
  2. Sapi/kerbau = Usia minimal 2 tahun,
  3. Kambing = Usia minimal 1 tahun,
  4. Domba Jadza’ah = Usia minimal 6 bulan.

Itulah batasan usia/umur binatang yang dapat diqurbankan.

Adapun syarat lain yang sangat dianjurkan bagi teman-teman yang ingin berkurban adalah :

  1. Memilih binatang qurban yang paling gemuk lagi sempurna atau tidak cacat.
  2. Warna bintang qurban yang lebih utama adalah putih polos, kemudian warna debu (abu-abu), kemudian warna hitam.
  3. Jenis kelamin jantan lebih utama untuk diqurbankan.

Cacat binatang qurban yang menyebabkan tidak sahnya ibadah qurban antara lain ialah :

  1. Buta sebelah dan tempak jelas butanya.
  2. Pincang dan tampak jelas pincangnya.
  3. Sakit dan tampak jelas sakitnya.
  4. Sangat tua sehingga tak memiliki sum-sum tulang belakang.

Cacat yang mengakibatkan menjadi makruh untuk dikurbankan :

  1. Sebagian atau seluruh bagian dari telinganya terpotonh.
  2. Tanduknya pecah atau belah.

Tuntunan Penyembelihan Hewan Qurban

Setelah kita ketahui sejarah,hukum dan sayarat-syarat binatang yang boleh untuk diqurbankan, selanjutnya kita perlu juga mengetahui tatacara atau aturan dalam penyembelihan hewan qurban.

Berikut adalah tatacara penyembelihan hewan qurban yang dianjurkan dalam Islam :

1. Pertama, Hewan qurban dirobohkan menghadap kekiri dengan kepalanya menghadap arah kiblat.

2. Selanjutnya menyebut asma Allah swt sebelum melakukan penyembelihan.

3. Kemudian letakkan pisau dibagian lehar binatang qurban dan lakukan penyembelihan dengan gerakan pisau tanpa diangkat sedikitpun. Dalam penyembelihan ini penjagal atau orang yang melakukan penyembelihan harus memutuskan tiga saluran, yaitu pembuluih darah, pernafasan dan saluran makan.

4. Pastikan binatang qurban benar-benar sudah mati, untuk melanjutkan proses selanjutnya.

5. Kemudian gantung hewan qurban dengan posisi kaki belakang berada diatas, hal ini dilakukan agar mempermudah proses selnjutnya dan agar darah dapat keluar sempurna.

6. Selanjutnya, ikat saluran makanan dan bagian anus. Hal ini untuk memastikan agar daging tidak terecemar oleh isi lambung dan usus.

7. Lamhkah selanjutnya lakukan pengkulitan hewan qurban.

8. Setelah proses pengulitan telah selanjtnya, barulah keluarkan isi rongga dada dan perut. Pada tahap ini pastikan lakukan secara hati-hati agar bagian lambung dan usus tidak robek terkena goresan pisau.

9. Setelah berhasil mengeluarkan usus dan lambung, barulah kita keluarkan jeroan hewan qurban, seperti hati, paru, limpa, ginjal dll.

10. Setelah jeroan berhasil dikeluarkan barulah langkah selanjutnya lakukan pemotongan daging qurban, dan masukkan kedalam kantong plastik yang telah disiapkan.

11. Setelah semuanya selesai barulah daging qurban bisa dibagikan.

Demikianlah pembahasan mengenai panduan qurban yang dapat kami sampaikan, semoga panduan ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *